Dhalang

BEN_2865Dhalang adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bahasa Jawa, dhalang(halang) berasal dari akronim ngudhal piwulang.  Ngudhal artinya membongkar atau menyebarluaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dhalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu disamping menguasai teknik pedhalangan sebagai aspek hiburan, dhalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh.

Seorang dhalang adalah seniman komplet. Disebut demikian karena seorang dhalang adalah sutradara dan juga pemain utama. Disamping menggerakkan wayangnya, ia juga membahasakannya, melawak, bahkan melantunkan ajaran kerohanian. Seorang dhalang adalah juga dirigen dari gamelan.

Didalam pertunjukan wayang, seringkali bahasa yang digunakan bukan hanya bahasa Jawa/Bali tetapi juga bahasa Sansekerta atau bahasa Jawa/Bali kuno. Dalam jaman modern ini, seringkali banyak kata dan kalimat dari bahasa Indonesia diselipkan dalam pertunjukan wayang.

Oleh karena seringkali cerita wayang berisi ajaran kerohanian ataupun pertunjukannya berkaitan dengan suatu upacara keagamaan, maka seorang dhalang diharapkan memiliki kesucian bathin yang tinggi. Sebelum menjadi dhalang, ia harus belajar laku tapa. Dalam pertunjukakan, ia seringkali dianggap menjembatani komunikasi antara alam nyata dan alam maya. Seorang dhalang seringkali dianggap sebagai komunikator, rohaniwan, dan tentu saja seniman yang komplit.

Dalam pertunjukan wayang kulit, dhalang duduk dibelakang layar (kelir) terbuat dari kain katun berwarna putih yang dibentangkan dalam sebuah bingkai kayu. Diatas kepalanya, tergantung sebuah lampu (blencong) yang akan memantulkan bayangan di layar. Di depan dhalang terdapat sebuah panggung (debog pisang), dimana pegangan bagian bawah wayang kulit yang tajam ditancapkan untuk menjaga letak wayang selama pertunjukan. Disebelah kiri terdapat kotak tempat penyimpanan berbagai jenis wayang yang telah selesai dipertunjukkan, sedangkan di bagian kanan ditempatkan wayang yang siap untuk dimainkan sesuai dengan lakonnya.

Dalam memainkan wayang, dhalang juga merupakan seorang konduktor yang memberi aba-aba bagi musik gamelan yang mengiringi permainan wayang. Aba-aba dilakukan dengan menggunakan kepyak, sebuah piring besi yang diletakkan di kaki sang dalang, atau dengan mengetukkan di dinding kotak yang diberi pegangan kayu di tangan kiri dalang.

Seni pedhalangan secara turun temurun diwariskan dalam sebuah keluarga dan dengan sendirinya membentuk sebuah kasta tersendiri di dalam masyarakat Jawa. Para wanita berperan besar dalam memainkan instrumen gender yang merupakan salah satu bagian penting dalam pertunjukan wayang. Putra seorang dhalang biasanya dititipkan untuk belajar pedhalangan pada seorang dhalang di usianya sekitar 13 tahun. Tugasnya membantu menyiapkan layar pertunjukan, mempertunjukan wayang di sore hari sebelum pertunjukan wayang semalam suntuk dan kadang-kadang bertindak sebagai asisten dhalang atau sebagai pemain gamelan. Biasanya kehidupannya remajanya berakhir dalam perkawinan dengan putri sang dalang yang  juga mahir memainkan gender hasil didikan ibunya. Aspek sosial kasta dalang ini diceritakan dengan sangat baik  dalam buku yang ditulis oleh Victoria Clara van Groenedael berjudul” The dalang behind the wayang.” (Dordrecht, 1985).

Biasanya pelatihan dhalang dilaksanakan dalam praktik pewarisan, dengan penekanan di bidang spiritual. Ini termasuk meditasi dan kungkum, dimana meditasi dilaksanakan dengan merendam diri didalam sungai hingga sebatas lehernya. Ini merupakan pelatihan paling penting bagi para calon dalang dalam membangun kekuatan stamina dalam memainkan pertunjukan wayang yang biasanya memakan waktu hingga 9 jam tanpa jeda. Elemen asketis lainnya adalah bahwa dhalang tidak makan selama pertunjukan, meskipun diperkenankan meminum teh manis atau merokok.

Pedhalangan terbagi dalam tiga area utama—musikalisasi, suara dan pewayangan. Aspek musik termasuk menjadi konduktor dari orkestra gamelan dan melantunkan lagu-lagu yang menimbulkan suasana di beberapa adegan (sulukan), penguasaan vokal termasuk pendarasan teks pewayangan saat pembukaan (kandha) dan berbagai jenis nada suara yang silih berganti pada saat dialog antar tokoh wayang, yang memperlihatkan kemahirannya dalam etiket bahasa Jawa, disertai kemampuan memainkan wayang itu sendiri (sabetan) dalam sitem yang rumit baik dalam gerakan maupun tata letaknya.

 

Drawing by abbysoekarno,2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s